PILIH MATI KARENA CORONA ATAU MATI KARENA LAPAR
Demi memutus penyebaran Covid 19 Pemerintah telah menetapkan supaya masyarakat stay at home, kampus dan sekolah diliburkan, perkantoran diberi kelonggaran dengan WFK (Work From Home) atau dengan cara mengatur jam kerja masuk pegawai, cafe dan restoran diminta untuk ditutup sementara, hajatan perkawinan dan acara sosial keagamaan supaya di reschedule, transportasi laut dan darat di batasi, mudik di "haramkan", sosialisasi hidup bersih di galakkan, cuci tangan pakai sabun, hindari pertemuan yang melibatkan banyak orang seperti rapat, arisan, pengajian dan bahkan sholat jum'at dan sholat berjamaah boleh tidak dilaksanakan bila ada jamaah yang sudah terindikasi -ODP, atau PDP Covid 19.
Sosialisasi dan kampanye bersama melawan corona demikian gencar dilaksanakan, baik lewat media on line, cetak, maupun selebaran langsung kerumah penduduk melalui perangkat desa, kepala lingkungan dan RT, RW.
Memang situasi ini sedikit banyaknya akan menggangu perekonomian secara makro dan mikro, terutama bagi saudara kita yang cari pagi untuk siang, cari siang untuk malam, sehingga fakta dilapangan terlihat minimnya kesadaran masyarakat di akar rumput, seolah mereka berkata : daripada mati kelaparan di atas tempat tidur lebih baik mati karena berjuang mencari sesuap nasi, toh selama ini walau demam, batuk, biarpun pening selama masih berjalan mereka tak menghiraukannya.
Jadi kelihatannya sosialisasi dan kampanye yang dilakukan, ditanggapi dingin oleh sebagian masyarakat, mereka acuh seolah bahaya virus corona ini tidak seperti yang di tayangkan.
Ada juga anggapan bahwa covid 19 adalah penyakit kelas atas, boleh juga pejabat, pengusaha, artis dan lain lain yang pekerjaannya keluar masuk bandara, dalam negeri maupun luar negeri.
Disamping itu ada sekelompok masyarakat, indikasinya dari golongan mayarakat kelas atas, mereka dengan gencar dan berupaya semaksimal mungkin melakukan sosialisasi serta mendukung penuh program bersama melawan corona, dugaan sementara mereka mungkin punya asset dan sejumlah dana dalam bentuk tabungan atau deposito yang cukup untuk beberapa bulan kedepan.
Bukan untuk mempertentangkan dua kubu ini, karena ini bukan pilihan, tapi konsekwensi alur kehidupan yang di lalui, setelah berusaha dan rezeki dari Allah SWT. Kaya dan miskin itu saling melengkapi, dihadapan Tuhan tidak ada kelebihan si kaya jika hartanya hanya untuk gaya dan memuas nafsu syaitoniah, si miskin tetaplah hina jika tak menghiasi dirinya dengan kemuliaan akhlak dan ketekunan dalam Ibadah.
Maka ditengah pandemi corona saat ini Penyuluh Agama Islam Kecamatan Medan Johor mengajak dan mengimbau kepada saudara yang diberi Allah SWT memiliki kelebihan harta, marilah ulurkan tangan, ayo bantu sesama/kaum kerabat/tetangga/sahabat yang terkena imbas dan efek #dirumahsaja. Agar mereka juga menyadari bahwa mereka adalah bahagian yang tak terpisah dari kehidupan masyarakat. Dalam Agama kita diingat bahwa kita semua bersaudara, kalbunyan yasuddu ba'duhu ba'don, semoga bermanfaat. GOODLIFE MEMBUAT HIDUPMU JADI TENANG DAN LEBIH BERMAKNA.
BY. Marasakti Bangunan, PAIF Medan Johor Prov. Sumatera Utara.
0 comments:
Posting Komentar