PENTINGNYA TABAYYUN
APA ITU TABAYYUN
Kata tabayyun berasal akar kata bahasa Arab
: tabayyana–yatabayyanu–tabayyunan, yang berarti meneliti kebenaran sesuatu dan
tidak tergesa-gesa di dalamnya
Tabayyun secara bahasa memiliki arti
mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya.
Sedangkan secara istilah adalah meneliti
dan meyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah baik dalam
hal hukum, kebijakan dan sebagainya hingga jelas benar permasalahannya.
Imam Asy Syaukani rahimahullah berkata,
“Yang dimaksud dengan tabayyun adalah memeriksa dengan teliti dan yang dimaksud
dengan tatsabbut adalah berhati-hati dan tidak tergesa-gesa, melihat dengan
keilmuan yang dalam terhadap sebuah peristiwa dan kabar yang datang, sampai menjadi
jelas dan terang baginya.” (Fathul Qadir, 5:65
Dengan kata lain kalau kita menerima
berita dari satu fihak, maka janganlah tergesa-gesa memutuskan mana yang salah
dan mana yang benar, perlu adanya penjelasan dari fihak lainnya, sehingga tidak
menimbulkan dosa dan penyesalan akibat keputusannya yang tidak adil atau
merugikan pihak lain
BAGAIMANA ISLAM MEMANDANG TENTANG
TABAYYUN
Perintah Tabayyun Ada Dalam Qs. Al
Hujarat (49) : 06
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ
جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ
فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu
membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan
suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali
perbuatanmu itu.
ASBABUN NUZUL
Al-Hâfizh
Ibnu Katsîr menyatakan, ayat ini dilatarbelakangi oleh suatu kasus sebagaimana
diriwayatkan dari banyak jalur. Yang terbaik, ialah dari Imam Ahmad dalam
Musnad-nya, dari jalur kepala suku Banil-Mushthaliq, yaitu al-Hârits ibnu
Dhirâr al-Khuzâ`i, ayah dari Juwairiyah bintil-Hârits Ummil-Mu`minîn
Radhiyallahu anhuma.
Al-Hârits
mengatakan: “Aku mendatangi Rasûlillâh SAW. Beliau mengajakku ke dalam Islam,
akupun menyetujuinya. Aku katakan: 'Wahai, Rasûlullâh. Aku akan pulang untuk
mengajak mereka berislam, juga berzakat. aku kumpulkan zakatnya, dan silakan
kirim utusan kepadaku pada saat ini dan itu, agar membawa zakat yang telah
kukumpulkan itu kepadamu'.”
Setelah
ia mengumpulkan zakat tersebut dari orang yang menerima dakwahnya, dan
sampailah pula pada tempo yang diinginkan Rasûlillâh SAW, ternyata utusan
tersebut menahan diri dan tidak datang. Sementara itu al-Hârits mengira bahwa
Allah dan Rasul-Nya marah,
Sebenarnya
Rasûlullâh SAW telah mengutus al-Walîd ibnu `Uqbah kepada al-Hârits untuk
mengambil zakat tersebut, tetapi di tengah jalan, al-Walîd ketakutan, sehingga
ia pun kembalilah kepada Rasûlillâh SAW sembari mengatakan: “Wahai, Rasûlallâh!
Al-Hârits menolak menyerahkan zakatnya, bahkan hendak membunuhku," maka
marahlah Rasûlullâh SAW lalu mengutus pasukan kepada al-Hârits. Sementara itu,
al-Hârits telah berangkat bersama kaumnya.
MENGAPA
TABAYYUN ITU BEGITU PENTING
Pertama
Mendapatkan
berita/informasi yang berkualitas
tidak
bercampurnya kebenaran dengan kebatilan
Kedua
:
Memilah
dan memilih Berita dengan derajat Naba’ dan Khabar.
Naba’ adalah pesan yang mempunyai pengaruh luas, apakah pesan itu salah atau
benar. Sementara khabar adalah pesan yang
pengaruhnya biasa saja.
Ketiga
:
Agar
memahami bahwa ada informasi itu yang memang diselewengkan untuk kepentingan
tertentu, ada memang kesalahan media, noise pada penerima.
Keempat ;
أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ
agar kamu tidak mencelakakan suatu
kaum karena kebodohan (kecerobohan),
.jpg)
0 comments:
Posting Komentar