Just another free Blogger theme

<a href="http://www.clock4blog.eu">calendar widget for blog</a>

Senin, 11 April 2022

 

HOAKS DAN BAHAYANYA

Oleh H. Marasakti Bangunan

 




NARASI MENGAWALI PEMBICARAAN

 

Kuatnya arus informasi dan komunikasi di era globalisasi semakin memudahkan masyarakat untuk memperoleh informasi melalui berbagai sarana, terutama internet.

 

Tidak hanya sekadar menerima informasi, masyarakat juga memiliki kesempatan untuk menciptakan, mengolah, dan menyalurkan narasi melalui berbagai media digital/media sosial.

 

Dengan kemudahan akses dan penggunaan tersebut  media sosial menjadi rentan atas penyebaran hoaks

 

Bentuk hoaks terus mengalami perkembangan dari bentuk sederhana menjadi lebih beragam. Hoaks berbentuk tulisan tetap yang terbanyak.

 

Tahun 2019 Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) Melakukan Survey Tentang Berita Hoaks, Hasilnya  

1.      Hoaks tulisan sebanyak 70,7%,

2.      Hoaks foto editan 57,8%,

3.      Hoaks foto dengan caption palsu 66,3%,

4.      Hoaks vidio editan -dubing palsu  33,2 %

5.      Hoaks video editan (dipotong-potong) 45,70%,

6.      Hoaks video dengan caption atau narasi palsu 53,2%,

7.      Hoaks berita/foto/video lama diposting kembali 69,20%.

 

Media Sosial tetap menjadi saluran penyebaran yang tertinggi.  Sedangkan topik utama yang paling sering diangkat dalam berita-berita palsu adalah hal-hal yang berkenaan dengan isu politik, Isu SARA, dan Isu kesehatan

 

MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI) telah mengeluarkan fatwa Nomor 24 Tahun 2017 Tentang HUKUM DAN PEDOMAN BERMUAMALAH MELALUI MEDIA SOSIAL

Bahwa haram hukumnya bagi seorang muslim menyebarkan hoaks.

 

APA ITU HOAKS

Arti Hoaks adalah kabar, informasi, berita palsu atau bohong. Dalam KBBI disebutkan bahwa arti Hoaks adalah berita bohong. Hoaks merupakan informasi yang direkayasa untuk menutupi informasi sebenarnya.

Dengan kata lain, arti Hoaks juga bisa didefinisikan sebagai upaya pemutarbalikan fakta menggunakan informasi yang seolah-olah meyakinkan tetapi tidak dapat diverifikasi kebenarannya.

 

MOTIF ATAU TUJUAN HOAKS

Mengapa hoaks ini muncul dimasyarakat salah satunya adalah ekses negatif kebebasan berbicara dan berpendapat di internet. Khususnya media sosial dan blog.

Hoaks dibuat seseorang atau kelompok dengan beragam tujuan, mulai dari sekedar main-main bahan lelucon atau sekedar iseng,, tujuan ekonomi (penipuan), dan politik (propaganda/pembentukan opini publik, membentuk perspsi, menjatuhkan pesaing/black campaign) atau agitasi (hasutan) hingga yang sistematis dan terstruktur.

MENGENALI & CIRI-CIRI BERITA HOAKS

Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri berita Hoaks;

  1. Didistribusikan via email atau media sosial karena efeknya lebih besar.
  2. Berisi pesan yang membuat cemas, panik para pembacanya.
  3. Diakhiri dengan imbauan agar si pembaca segera memforwardkan warning tersebut ke forum yang lebih luas. Hoaks memanfaatkan iktikad baik si pembaca, sehingga pembaca email ini tanpa meneliti terlebih dahulu kebenaran beritanya, langsung segera menyebarkannya ke forum yang lebih luas. Akibatnya lalu lintas peredaran data di internet makin padat dengan berita yang tidak benar. 
  4. Biasanya pengirim awal Hoaks ini tidak diketahui identitasnya.

 

BAGAIMANA KISAH HOAKS YANG MENIMPA NABI DAN UMMUL MUKMININ

 

Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a istri Rasulullah saw. pernah viral di masyarakat, ada hoaks bahwa Ummul Mukminin memiliki hubungan gelap dengan sahabat nabi yang bernama Shafwan bin Al-Mu’aththal As-Sullami Adz-Dzakwani

Setelah perang dengan Bani Mus•aliq pada bulan Sya‘ban 5 H. Peperangan itu diikuti kaum munafik dan turut pula ‘Aisyah r.a. dengan Nabi saw. berdasarkan undian yang diadakan di antara istri-istri beliau.

Dalam perjalanan kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. ‘Aisyah r.a. keluar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, kemudian kembali. Tiba-tiba dia merasa kalungnya hilang, lalu dia pergi lagi mencarinya.

Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa ‘Aisyah r.a. masih ada dalam sekedup. Setelah ‘Aisyah r.a. mengetahui sekedupnya sudah berangkat, dia duduk di tempatnya dan mengharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya.

Kebetulan, lewat di tempat itu seorang sahabat Nabi, Safwan ibnu Mu‘aththal, ditemukannya seseorang sedang tidur sendirian dan dia terkejut seraya mengucapkan, “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘µn,  istri Rasul!” ‘Aisyah r.a. terbangun. Lalu dia dipersilakan oleh Safwan mengendarai untanya.

Safwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. Orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut pendapat masing-masing. Mulailah timbul desas-desus. Kemudian kaum munafik membesar-besarkannya, maka fitnah atas ‘Aisyah r.a. itu pun bertambah luas, sehingga menimbulkan keguncangan di kalangan kaum muslim. Peristiwa tersebut membuat Allah cemburu (murka) demi Siti Aisyah dan Nabi-Nya. Maka Allah Swt. menurunkan wahyu yang membersihkan kehormatan Siti Aisyah demi memelihara kehormatan Rasulullah Saw. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

{إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ عُصْبَةٌ}

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari segolongan kalian juga, (An-Nur: 11)

Orang yang pertama menyebar isu keji ini adalah Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul, pemimpin kaum munafik. Dialah orang yang mempunyai prakarsa menyebarkan isu dusta itu sehingga ada sebagian dari kalangan kaum muslim yang termakan dan terhasut oleh isu yang disebarkannya, yang akhirnya menjadi bahan pergunjingan mereka.

Sedangkan sebagian kaum muslim lainnya tidak mempunyai tanggapan apa pun terhadap peristiwa itu. Keadaan ini berlanjut sampai hampir satu bulan lamanya. Akhirnya turunlah ayat-ayat Al-Qur'an yang menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.

 

BAGAIMANA LANGKAH-LANGKAH AGAR TERHINDAR DARI HOAKS

Anda dapat melakukan langkah-langkah untuk menghindari Hoaks sekaligus membantu menghentikan penyebarannya di media sosial.

1.      Perhatikan judul informasi
Beberapa oknum kerap memasang judul yang menjebak artinya menarik masyarakat agar membacanya.

 

Berita palsu biasanya memiliki judul yang mengejutkan agar membuat rasa penasaran. Isi kontennya pun biasanya terlihat provokatif dan memanfaatkan isu-isu yang sedang tren.

 

2.      Lihat sumber berita
Hal kedua yang perlu dilakukan adalah periksa sumbernya, apakah dari situs resmi dan terpercaya tidak.

 

Apabila informasi berasal dari situs-situs media sosial dan web yang belum dapat dipercaya disarankan untuk segera mengecek ke situs-situs lainnya.

 

3.      Periksa foto dan video
Tidak hanya tulisan, seperti yang telah disebutkan bahwa Hoaks bermacam-macam bentuknya dan salah satunya yaitu berupa foto dan video.

 

Sama halnya dengan tulisan, Hoaks bentuk foto dan video yang Anda terima jangan langsung mempercayai begitu saja. Terkadang oknum juga mengedit sebuah foto dan video sebelum menyebarkannya di media sosial. Namun, Anda tidak perlu khawatir untuk mencari fakta dari foto dan video tersebut. Anda bisa cek keaslian dari berita foto dan video tersebut dengan memanfaatkan teknologi fitur dari Google Images dengan tautan images.google.com.

 

4.      Hati-Hati dengan bentuk forward messages
Pernahkah Anda mendapatkan pesan yang diteruskan dari media sosial? Tentu pernah! Maraknya berita Hoaks dari media sosial tentu sangat meresahkan. Biasanya oknum Hoaks akan menyebarkan ke banyak orang dengan dalih isinya meminta untuk segera diteruskan ke banyak orang, berupa ancaman jika Anda tidak meneruskan pesan tersebut, atau mendapatkan hadiah. Jika Anda menerima pesan seperti itu, segera hapus dan abaikan!

 

5.      Laporkan ke Kementerian Komunikasi dan Informatika jika menemukan berita Hoaks

 

Apabila Anda menemukan berita Hoaks, sebaiknya Anda segera melaporkan konten tersebut ke Kementerian Komunikasi dan Informatika agar berita Hoaks segera ditindak tegas.

 

Anda bisa melakukan screen capture disertai url link lalu kirim filenya ke aduankonten@mail.kominfo.go.id.

 

 

UJARAN KEBENCIAN

(HATE SPEECH)

Oleh Marasakti Bangunan

 

Masyarakat perlu mengembangkan kesadaran soal kebebasan berbicara dengan
memperhatikan implikasinya

NARASI PEMBUKA

 Kita saat ini telah memasuki Revolusi Industri 4.0, diantaranya kita dihadapkan pada deras nya arus infomasi, dimana manusia dapat terhubung satu sama lainnya secara online, termasuk di dalamnya media sosial.

 

Informasi di dapatkan pun silih berganti setiap detik dan bahkan bercampur aduk antara berita, fakta, prasangka, gosip, fitnah, dan ujaran kebencian.

 

Sayangnya, perkembangan teknologi informasi ini tidak diimbangi dengan penggunaan dan pemanfaatan yang baik sehingga masyarakat cenderung tidak bijak dan tidak etis dalam menggunakan teknologi media baru.

Sehinnga banyak kasus yang menyebabkan orang  celaka, masuk penjara karena status, twitt dan postingnya di  media  sosial.

 

Bahkan tak jarang pula terjadi permusuhan antara suatu kelompok dengan kelompok yang lainnya, akibat informasi yang yang mengadomba dan berisi ujaran kebencian (hate speech)

 

APA ITU HATE SPEECH

 

Hate Speech didefinisikan sebagai tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok dalam bentuk penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menyenangkan, provokasi, penghasutan, penyebaran berita bohong dan semua tindakan di atas memiliki tujuan atau bisa berdampak pada tindak diskriminasi, kekerasan, penghilangan nyawa, dan atau konflik sosial.

 

Ujaran ini ditujukan kepada individu atau kelompok lain dalam berbagai aspek seperti ras, warna kulit, etnis, gender, cacat, orientasi seksual, kewarganegaraan, agama, dan lain-lain.

 

 

BENTUK-BENTUK HATE SPEECH

 

1.      Pencemaran Nama Baik

2.      Penghinaan

3.      Penistaan

4.      Menghasut

5.      Penyebaran berita bohong

 

FAKTOR PENYEBAB MUNCULNYA UJARAN KEBENCIAN

 

Faktor penyebab pelaku melakukan kejahatan ujaran kebencian (hatespeech) adalah sebagai berikut :

 

1.      Faktor Individu/Pribadi

Faktor kejiwaan seperti daya emosional, mentaliltas, sakit hati dengan korban, dendam, dan lainnya.

 

2.      Faktor Ketidaktahuan Masyarakat

Kurangnya sosialisasi/penyuluhan kepada masyarakat, sehingga masyarakat tidak tahu atau buta terhadap aturan tentang kejahatan hate speech.

 

3.      Faktor Sarana dan Fasilitas

Tumbuh pesatnya perkembangan media elektronik berbasis internet membuat  penyebaran informasi semakin mudah, cepat dan efektif dan hampir tanpa batas.

 

4.      Faktor Minimnya Kontrol Sosial

Minimnya kontrol sosial baik secara internal dan eksternal

Lingkungan keluarga yang seringkali tidak mau tahu dan masyarakat tidak memperdulikan akan kejadian-kejadian kejahatan yang terjadi di sekitarnya,

 

5.      Faktor Lingkungan

Lingkungan adalah tempat utama dalam mendukung terjadinya pola prilaku kejahatan yang dilakukan oleh seseorang.

6.      Faktor Ekonomi dan Kemiskinan

Ekonomi lemah, pengangguran, tidak memiliki berpenghasilan dan kemudian terdesak akan suatu kebutuhan tertentu, dapat mendorong seseorang melakukan kejahatan ujaran kebencian (hate speech).

 

7.      Faktor Kepentingan Masyarkat/ Golongan

Adanya kepentingan masyarakat / golongan terhadap sesuatu dan bersebarangan dengan masyarakat/golongan yang lain baik terkait Politik, SARA, Ekonomi, Budaya dll.

 

Mery Febriyani, Analis Faktor Penyebab Pelaku Melakukan Ujaran Kebencian (hate speech), Lampung : Univ. Lampung, 2018.

 

HATE SPEECH DALAM PANDANGAN ISLAM

 

1.      QS. Al Hujarat (49) : 11

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

 

 

2.      Dalam Islam membenci sesama adalah suatu perbuatan yang tercela. Sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis dari Anas, bahwasanya Rasulullah bersabda: “Janganlah engkau semua saling benci-membenci, saling dengki-mendengki,salingbelakang-membelakangi dan saling putus-memutuskanikatan persahabatan atau kekeluargaandan jadilah engkau semua hai namba-hamba Allah sebagai saudara-saudara. Tidaklah halal bagi seseorang Muslim kalau ia meninggalkanyakni tidak menyapasaudaranya lebih dari tiga hari(MuttafaqAlaihi)(Yahya, 1987 : 426).

 

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah bersabda: "Pintu surga dibuka setiap hari Senin dan Kamis. Maka pada hari itu setiap hamba diberi ampunan selama ia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kecuali seorang hamba yang bermusuhan dengan saudaranya. Maka dikatakan, 'Akhirkan dulu mereka hingga mereka akur, akhirkan dulu mereka hingga mereka akur, akhirkan dulu mereka hingga mereka akur, akhirkan dulu mereka hingga mereka akur"(HR. Muslim)(Yahya, 1987 : 437).Dari Abdullah binAmr bin Ash RA. ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda:“Orang Islam adalah kaum mukminin yang terhindar dari gangguan lidah dan tangannya; sedangkan orang yang hijrah adalah orang yang meninggalkan segala apa yang dilarang Allah”(Muttafaq Alaihi)(Yahya, 1987 : 437).Selain larangan untuk membenci sesama umat Islam, sifat rahmatan lil‟alaminjuga berlaku bagi umat yang lain. Hal tersebut sebagaimana dalam al Quran disebutkan:َنيذَّلٱاَهُّيَأََٰٓيَنيمَٰٓاَءََٰٓلََوَدئََٰٓلَقۡلٱَلََوَيۡدَهۡلٱَلََوَماَرَحۡلٱَرۡهَّشلٱَلََوَّللَّٱَرئََٰٓعَشاوُّلحُتَلَاوُنَماَءۚاانَوۡضرَوۡمهبَّرنمالٗۡضَفَنوُغَتۡبَيَماَرَحۡلٱَتۡيَبۡلٱَنَشۡمُكَّنَمرۡجَيَلََوۚاوُداَطۡصٱَفۡمُتۡلَلَحاَذإَوَتَلََوٰۖىَوۡقَّتلٱَوربۡلٱىَلَعاوُنَواَعَتَوْۘاوُدَتۡعَتنَأماَرَحۡلٱدجۡسَمۡلٱنَعۡمُكوُّدَصنَأٍمۡوَقُنااوُنَواَعباَقعۡلٱُديدَشََّللَّٱَّنإََّٰۖللَّٱاوُقَّتٱَوۚنَوۡدُعۡلٱَومۡثۡلۡٱىَلَع٢Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi ́ar-syi ́ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.(Al-Maidah ayat 2)

 

 

 

Pada ayat lain diterangkan,َنَشۡمُكَّنَمرۡجَيَلََوٰۖطۡسقۡلٱبَءَٰٓاَدَهُشَّللََّنيمَّوَقاوُنوُكاوُنَماَءَنيذَّلٱاَهُّيَأََٰٓيۡعَتَّلََأَٰٓىَلَعٍمۡوَقُناََّللَّٱَّنإََّۚللَّٱاوُقَّتٱَوٰۖىَوۡقَّتللُبَرۡقَأَوُهاوُلدۡعٱۚاوُلدَنوُلَمۡعَتاَمبُُۢريبَخ٨Artinya: Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Al Maidah ayat 8). Berkaitan dengan hate speech, maka kebencian yang dilarang dalam Islam termasuk perkataan buruk yang dapat menyakiti orang lain. Adapun diantara ayat-ayatnya adalah sebagai berikut:1.Al-Anam ayat 108َكلَذَكٖۗمۡلعرۡيَغباَُۢوۡدَعََّللَّٱاوُّبُسَيَفَّللَّٱنوُدنمَنوُعۡدَيَنيذَّلٱاوُّبُسَتَلََواوُناَكاَمبمُهُئبَنُيَفۡمُهُعجۡرَّممهبَرىَلإَّمُثۡمُهَلَمَعٍةَّمُألُكلاَّنَّيَزَنوُلَمۡعَي١٠٨Artinya: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, Karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”. (Al-Anam ayat 108)2.Al-Hujrat ayat 11 dan 12نمٞءَٰٓاَسنَلََوۡمُهۡنماارۡيَخاوُنوُكَينَأَٰٓىَسَعٍمۡوَقنمٞمۡوَقۡرَخۡسَيَلَاوُنَماَءَنيذَّلٱاَهُّيَأََٰٓيۡمُكَسُفنَأآَٰوُزمۡلَتَلََوَّٰۖنُهۡنماارۡيَخَّنُكَينَأَٰٓىَسَعٍءَٰٓاَسنَسۡئبٰۖبَقۡلَۡلۡٱباوُزَباَنَتَلََوَنوُملَّظلٱُمُهَكئََٰٓلوُأَفۡبُتَيۡمَّلنَمَوۚنَميۡلۡٱَدۡعَبُقوُسُفۡلٱُمۡسلِٱ١١نَّظلٱَنمااريثَكاوُبنَتۡجٱاوُنَماَءَنيذَّلٱاَهُّيَأََٰٓيُيَأۚاًضۡعَبمُكُضۡعَّببَتۡغَيَلََواوُسَّسَجَتَلََوٰۖٞمۡثإنَّظلٱَضۡعَبَّنإٞباَّوَتََّللَّٱَّنإََّۚللَّٱاوُقَّتٱَوُۚهوُمُتۡهرَكَفااتۡيَمهيخَأَمۡحَلَلُكۡأَينَأۡمُكُدَحَأُّبحٞميحَّر١٢Artinya:Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim(11). Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (12).Dalam tafsir al-Manar dijelaskan bahwa الۡسخاسbermakna ءاضََٰٰٕٓٓتسلۡاأساقتحلۡاyaitu menghina dan menganggap remeh. Adapun ضًًٕهناberarti mencela dan melaknat dengan maksud menyakiti. ضًًٕهناdilakukan dengan perkataan adapun انَٰٓ ًاصdilakukan dengan perbuatan. Terkahir adalah ضباُتناyaitu panggilan yang tidak pantas, dimana manusia yang mendengarnya merujuk kepada sesuatu yang buruk/jelek(Imamuddin Abi al-Fida Isma’il Ibnu Kastsir, 2000 :154).

Dalam Islam, formulasi tindakan hate speechmelebihi cakupan dalam definisi regulasi maupun istilah Barat. Asas moral yang mendasari hate speechberlaku bagi tindakan lain yang berkaitan dengan kemaslahatan umat. Pertama larangan untuk membenci orang lain, sesama muslim ataupun non muslim. Secara subjektif seorang muslim dilarang untuk memiliki perasaan hasad ataupun melakukan tindakan atas kebenciannya kepada orang lain. Adapun dari sudut objektif, maka tindakan apapun yang menyakiti orang lain dilarang oleh agama. Kedua spesifik hate speech, maka berkaitan dengan larangan perkataan yang dapat menimbulkan permusuhan pribadi maupun kelompok. Termasuk perkataan dan perbuatan tersebut yang ditujukan kepada seorang muslim atau non muslim. Tidak ada perbedaan status dalam melihat ciptaan tuhan, Islam melarang diskriminasi atas dasar apapun terutama terhadap sesama muslim. Islam sangat menjungjung tinggi hak asasi manusia dengan dasar penghargaan atas perbedaan.

 

CARA MUDAH MERAIH TAKWA

Oleh H. Marasakti Bangunan

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

 الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Berinfak dalam segala kondisi

Ibnu Kathir dalam tafsir-nya menerangkan bahwa berinfaq dalam kondisi lapang maupun sempit bisa diartikan demikian. Namun lebih luas diterangkan bahwa kondisi yang dimaksud juga bisa dalam keadaan giat ataupun malas, sehat ataupun sakit dan dengan segala kondisi apapun. Para ahli surga tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak dilalaikan oleh keadaan apa pun dalam bertakwa kepada-Nya.

Pada Tafsir al-Maraghi juga disebutkan bahwa berinfak dihadapkan pada dua kondisi, yakni keadaan mudah dan susah. Sebagian orang teramat berat untuk menginfakkan harta yang ia cintai. Bila mereka berhasil melakukannya maka itu menunjukan ketakwaan.

Lebih lanjut, al-Maraghi menerangkan bahwa dianjurkannya bersedekah dalam keadaan lapang ialah demi menghapus rasa takabur, cinta harta dan memendam nafsu keinginan karena hartanya.

Adapun anjuran berinfak dalam keadaan susah ialah sebagai tantangan, karena pada umumnya mereka dalam kondisi tersebut cenderung meminta dari pada memberi. Maka bagi mereka yang masih bisa menyisihkan hartanya walaupun dalam keadaan susah, itulah ciri ahli surga.

Menahan amarah

Ciri kedua yang disebut pada ayat diatas ialah وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ yakni mereka yang mampu menahan amarah. Menurut Ibnu Kathir, kata al-Kadhimin mengandung makna penuh kemudian menutupnya dengan rapat. Ia mengibaratkan seperti wadah yang penuh dengan air kemudian ditutup dengan rapat agar tidak tumpah. Ini merupakan analogi sederhana untuk menujukan bahwa ketika seseorang marah, keinginan untuk menbalas masih ada. Tetapi, ia mencoba menutupnya hingga tidak terlampiaskan kemarahan tersebut.

Bagi al-Maraghi, mereka ialah orang yang mampu mengekang amarah dan tidak mau melampiaskannya meskipun hal itu bisa saja dilakukan. Sedangkan mereka yang cenderung menuruti nafsu amarah hingga bertekad untuk dendam, maka bisa dikatakan tidak stabil dan tak mau berpegang pada kebenaran.

Ini juga sejelan dengan sabda Nabi Muhammad saw:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ

“Bahwa Rasulullah saw bersabda: barangsiapa menahan amarah sedang ia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan semua manusia hingga Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jelita yang ia kehendaki”(HR. Abu Dawud)

Memaafkan sesama

Ibn kathir menjelaskan bahwa ini merupakan tingkatan setelah seseorang mampu menahan amarah, yakni mau memaafkan. al-‘Afin sendiri terambil dari kata al-‘Afni yang bermakna menghapus dan maaf. Ini menunjukan bahwa orang yang mau memaafkan berarti ia telah menghapus bekas luka di hatinya akibat kesalahan yang dilakukan orang lain.

Bila pada tahap “menahan amarah”, orang tersebut masih memiliki rasa sakit hati yang terpendam, maka pada tahap ini, orang tersebut benar-benar terhapus dan hilang hingga seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu.

al-Maraghi berpendapat bahwa ini merupakan tingkat penguasaan dan pengendalian diri yang jarang dilakukan tiap orang. Mereka yang suka memberi maaf atas kesalahan orang lain dan tidak menuntut balasan merupakan para ahli surga yang sudah dijanjikan Allah melaui firman-Nya.

Ibn Kathir juga mengingatkan bahwa ayat ini ditutup dengan “Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” yang mengindikasikan bahwa ketakwaan seseorang berada pada tingkatan tertinggi apabila ia mau berbuat baik pada orang yang telah berbuat kesalahan padanya. Sehingga ia tidak hanya menahan amarah dan memaafkan. Namun, juga membalasnya dengan perbuatan baik.

 

 

CYBERBULLIYING

Oleh H. Marasakti Bangunan


NARASI PEMBUKA

 

Data yang diperoleh UNICEF pada 2016, sebanyak 41 hingga 50 persen remaja di Indonesia dalam rentang usia 13 sampai 15 tahun pernah mengalami tindakan cyberbullying.

 

Bahkan, satu dari tiga orang di 30 negara telah menjadi korban intimidasi online karena cyberbullying dan kekerasan.

 

Cyberbullying adalah bentuk penyalahgunaan internet yaitu untuk melecehkan, mengancam, mempermalukan, dan mengejek orang lain.

 

Cyberbullying  memberi dampak buruk bagi mereka yang dirundung, baik itu terhadap fisik dan psikisnya.

 

Cyberbullying termasuk kejahatan dan penyelesaiannya menggunakan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 jo Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

 

 

Apa itu Cyber Bullying?

 

Dilihat dari sudut pandang psikologi, cyberbullying  termasuk bagian dari aksi bullying.

 

Ditinjau dari sudut pandangan hukum, cyberbullying adalah kejahatan yang dilakukan secara sengaja dalam bentuk fitnah, cemooh, kata-kata kasar, pelecehan, ancaman, dan hinaan.

 

Bentuk kejahatan ini bermula dari perilaku merendahkan martabat dan mengintimidasi orang lain melalui dunia maya.

Tujuannya agar target mengalami gangguan psikis. Cyberbullying adalah model terbaru dalam aksi bullying, dan model  lebih berbahaya karena dapat dilakukan siapa saja, kapan saja, dan dimana saja.

 

Justin W. Patchin (profesor Peradilan Pidana di University of Wisconsin-Eau Claire) dan Sameer Hinduja (Profesor Kriminologi dan Peradilan Pidana di Florida Atlantic University) dalam studinya “Cyberbullying: Identification, Prevention, & Response” (2014, PDF) menjelaskan bahwa cyberbullying terjadi saat melecehkan, menghina, atau mengejek orang lain menggunakan media internet melalui gawai atau perangkat elektronik lainnya berulang kali.

 

Misalnya mengunggah gambar memalukan seseorang dan menyebarluaskan atau mendistribusikan gambar tersebut melalui media sosial dan mengirimkan ancaman melalui pesan singkat.

 

Jenis-jenis Cyberbullying di Indonesia

 

1. Flaming (Terbakar)

Tindakan seseorang mengirimkan pesan teks yang berisi kata-kata frontal dan penuh amarah. Secara umum, tindakan flaming berupa provokasi, penghinaan, mengejek, sehingga menyinggung orang lain.

 

2. Harassment (Gangguan)

Tindakan seseorang mengirim pesan-pesan berisi gangguan melalui sms, e-mail, teks jejaring sosial dengan intensitas terus-menerus. Pelaku harassment biasanya sering menulis komentar terhadap dengan tujuan menimbulkan kegelisahan. Selain itu, harassment juga mengandung kata-kata hasutan agar orang lain melakukan hal yang sama.

 

3. Denigration (Pencemaran Nama Baik)

Tindakan dilakukan sengaja dan sadar mengumbar keburukan orang lain melalui internet. Hingga akhirnya merusak nama baik dan reputasi orang yang dibicarakan pada jejaring sosial tersebut.

 

4. Cyberstalking

Tindakan memata-matai, mengganggu, dan pencemaran nama baik terhadap seseorang yang dilakukan secara intens. Dampaknya, orang yang menjadi korban merasakan ketakutan besar dan depresi.

 

5. Impersonation (Peniruan)

Tindakan berpura-pura atau menyamar menjadi orang lain untuk melancarkan aksinya mengirimkan pesan-pesan dan status tidak baik. Biasanya terjadi pada jejaring sosial seperti instagram dan twitter menggunakan akun palsu.

 

6. Outing and Trickery

Outing merupakan tindakan menyebarkan rahasia orang lain. Outing berupa foto-foto pribadi seseorang yang setelah disebarkan menimbulkan rasa malu atau depresi. Sementara itu, trickery berupa tipu daya yang dilakukan dengan membujuk orang lain untuk memperoleh rahasia maupun foto pribadi dari calon korban. Dalam banyak kasus, pelaku outing biasanya juga melakukan trickery.

 

Dampak Cyber Bullying

Dampak cyber bullying berbeda dari kejahatan lain dan sangat berbahaya, yakni:

 1. Menarik Diri Dari Lingkungan Sosial

Kondisi psikologis korban cenderung mengalami kecemasan dan ketakutan. Mereka tidak ragu menarik diri dari lingkungan sosial. Contohnya, banyak kasus bullying di jejaring sosial yang dialami anak sekolah. Akhirnya membuat sang anak depresi, mengisolasi diri karena malu, dan memilih putus sekolah.

2. Perasaan Dikucilkan Lingkungan

Cyberbullying memang terjadi melalui internet atau jejaring sosial. Namun, orang-orang yang berada di lingkungan nyata sekeliling korban dapat melihatnya. Terlebih lagi berbagai komentar jahat yang ditujukan kepada korban.

Hal ini membuat orang sekitar turut menyerang korban dalam kehidupan nyata. Akhirnya, korban cyberbullying dikucilkan oleh masyarakat dan mendapat perlakuan kurang menyenangkan.

 3. Kesehatan Fisik dan Mental Terganggu

Bullying yang dilakukan secara terus menerus melalui jejaring sosial oleh orang dikenal maupun tidak dikenal akan mendatangkan stress. Ujung-ujungnya perasaan memendam depresi, rasa cemas, dan kehilangan kepercayaan diri mendatangkan gangguan post traumatic stress disorder (PTSD).

Tentunya pengaruh PTSD tidak mengenal usia. Bahkan pada orang dewasa efeknya stimuli sistem kekebalan tubuh menjadi terganggu.

4. Depresi dan Ingin Bunuh Diri

Korban cyberbullying sering kali merasakan marah, takut, terluka, tidak berdaya, malu, putus asa, dan terisolasi. Apabila kondisi ini terjadi berulang-ulang dan semakin parah akan menyebabkan perasaan ingin mengakhiri hidupnya.

 

BAGAIMANA PADANGAN ISLAM TERHADAP BULLYING

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Daud Ibnu Abu Hindun dari Asy-Sya’bi yang mengatakan telah menceritakan kepadaku Abu Jubairah ibnu Ad-Dahhak yang mengatakan bahwa berkenaan dengan kami, Bani Salamah ayat tersebut diturunkan. Ketika Rosulullah SAW tiba di Madinah, tiada seorang pun dari kami melainkan mempunyai dua nama atau tiga nama. Tersebutlah pula apabila beliau memanggil seseorang dari mereka dengan salah satu

 

Imam Hakim mengetengahkan sebuah hadis yang juga melalui hadis yang diriwayatkan oleh Jubair Ibnud Dahhak, bahwasannya nama-nama julukan adalah sesuatu yang telah membudaya di jaman Jahiliah. Lalu pada suatu hari Nabi SAW memanggil salah seorang diantara mereka dengan nama julukannya. Maka ada orang lain yang mengatakan kepadanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya nama julukan itu sangat tidak disukainya”, lalu Allah SWT menurunkan firman-Nya:

“dan janganlah  kalian panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk” (QS. Al-Hujurat: 11)

QS. AL HUJARAT : 11

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Artinya  :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.


Menurut Tafsir Al-Maraghi, ayat ini turun berkenaan dengan teguran atas ejekan yang dilakukan oleh Bani Tamim kepada para sahabat Rasul yang miskin.

 

Terdapat beberapa term yang berkaitan dengan bullying secara umum dalam ayat ini.

 

Pertama, yaskharu (mengolok-olok), yaitu menyebut kekurangan orang lain dengan tujuan menertawakan yang bersangkutan.

 

Kedua, talmizu (mengejek) baik dengan perkataan langsung atau isyarat.

 

Ketiga, tanabazu yakni saling memberi gelar yang buruk.

 

Ketiga jenis perbuatan tersebut termasuk dalam kategori bullying. Namun selain itu, Alquran juga menyebutkan beberapa perbuatan lain seperti

1.    mengumpat (Q.S.Al-Humazah:1),

وَيۡلٌ لِّـكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةِ

1. Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela,

 

2.     menggunjing dan berprasangka buruk (Q.S.Al-Hujurat:12).

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang

 

3.    Hadis Riwayat Muslim No. 131/5362

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ دِينَارٍ جَمِيعًا عَنْ يَحْيَى بْنِ حَمَّادٍ قَالَ ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبَانَ بْنِ تَغْلِبَ عَنْ فُضَيْلٍ الْفُقَيْمِيِّ عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Dan telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin al-Mutsanna] dan [Muhammad bin Basysyar] serta [Ibrahim bin Dinar] semuanya dari [Yahya bin Hammad], [Ibnu al-Mutsanna] berkata, telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Hammad] telah mengabarkan kepada kami [Syu'bah] dari [Aban bin Taghlib] dari [Fudlail al-Fuqaimi] dari [Ibrahim an-Nakha'i] dari [Alqamah] dari [Abdullah bin Mas'ud] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan." Seorang laki-laki bertanya, "Sesungguhnya laki-laki menyukai apabila baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?" Beliau menjawab: "Sesungguhnya Allah itu bagus menyukai yang bagus, kesombongan itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia."

PENUTUP (closing statement)

Jadi membully bukan hanya menimbulkan perasaan malu bagi korbannya, namun juga terselip perasaan bahwa si pembully merasa lebih baik dari yang di bully. Lebih jauh lagi, surah al-Hujurat ayat 11 mengajarkan agar kita senantiasa introspeksi diri lebih dulu sebelum menilai baik buruknya orang lain. “boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).

Media sosial terkenal dengan “free writing and speech”. Dan media sosial sarana paling ramah dalam masyarakat untuk mengekspresikan penilaiannya terhadap orang lain.

Seorang Muslim tidak akan bisa membatasi konten yang beredar, tetapi sangat dapat membatasi diri sendiri, untuk tidak terlibat arus cyberbullying yaitu agar seorang muslim belajar lebih bijak dan cerdas mengunakan media,

 

Pada dasarnya, setiap manusia memiliki sisi positif dan negatif. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Tetapi bukanlah wewenang kita untuk merendahkan seseorang hanya perbedaan  warna kulit, gender, bahasa, suku, agama/keyakinan, dll

jika Nabi Muhammad SAW. yang telah terjaga dari dosa tak pernah merendahkan orang, mengapa kita yang berlumuran dosa ini malah melakukannya.