Just another free Blogger theme

<a href="http://www.clock4blog.eu">calendar widget for blog</a>

Jumat, 12 Agustus 2022

 ECHO CHAMBER

Oleh H. Marasakti Bangunan



NARASI MENGAWALI PEMBICARAAN

Echo chamber adalah ruang tempat kita hanya mendengar apa yang kita teriakkan tanpa mau tahu kondisi nyata. Namun, makna dan efek yang ditimbulkannya bisa sangat berbahaya untuk dia yang berteriak.

Polarisasi yang terjadi di dunia nyata sedikit banyak bersumber dari gesekan-gesekan di media sosial. Diakui atau tidak, media sosial berpengaruh besar terhadap keadaan saat ini. Ia mewadahi terciptanya masyarakat yang terkotak menjadi dua kelompok. Dengan demikian, timbullah sentimen kami vs kalian di tengah masyarakat

Selain berdampak kepada perdebatan horizontal, polarisasi juga mematikan iklim diskusi dan mendorong individu yang sempit pemikirannya (close-minded person).

Mayoritas pengguna media sosial saat ini cenderung hanya mau menerima gagasan yang ia percaya dan berkumpul dengan orang-orang yang sepemikiran, atau disebut sebagai echo chamber effect

Echo chamber effect adalah sebuah metafora yang menggambarkan keadaan bahwa seseorang menutup semua ide yang berseberangan dari yang dipercaya dan hanya meyakini segala sesuatu yang mengamini kepercayaannya. Kemudian ketika ia menemui informasi atau gagasan yang berseberangan, ia langsung menilai bahwa informasi tersebut tidak valid.           

Efek ini sangat bisa dirasakan ketika kita berhadapan langsung dengan orang-orang yang terjebak di dalam echo chamber. Orang-orang tersebut akan mengisolasi diri dari pandangan luar sehingga sulit bagi kita untuk men-challenge argumen mereka. Kebenaran di mata orang-orang tersebut juga akan semakin subjektif karena hanya didasari apa yang ia mau.   Dampak dari echo chamber effect tidak hanya memperparah polarisasi, tetapi juga merusak ekosistem digital kita. Mari tengok bagaimana teori konspirasi bisa tumbuh subur dan dipercayai banyak orang, termasuk grup whatsapp kita sendiri. Atau bagaimana seseorang bisa membenci suatu pihak hanya karena ia ngikut sikap sosok yang ia idolai.Dalam konteks pandemi, nakes yang sudah berjibaku demi keselamatan manusia pun tak luput dari objek pesakitan masyarakat yang menutup mata dan terjebak dalam echo chamber





Echo chamber adalah sebuah deskripsi kiasan dari sebuah keadaan dimana keyakinan diyakini atau disebarkan oleh komunitas dan diulang-ulang dalam sebuah sistem tertutup. 

Dengan mengunjungi sebuah "echo chamber", orang-orang dapat menyaksikan informasi yang menegakkan pandangan mereka yang berdiri, berpotensi menjadi bias konfirmasi. Ini dapat meningkatkan polarisasi dan ekstrimisme sosial dan politik

Kamar gema dibagi menjadi dua bagian, yang pertama adalah kamar (grup yang ada di media sosial) dan gema (fitur share yang tersedia di media sosial) karena dua fitur ini maka seseorang akan terus ter-ekspos dengan informasi yang satu pemikiran dengannya. Kedua hal ini memudahkan pergeseran nilai yang dipegang oleh individu ke kutub yang lebih ekstrem. Alih-alih menjadi kanal informasi yang luas dan beragam, internet bisa menjadi kamar gema tempat individu sepemikirian berkumpul, mempersempit pandangan dan mengamplifikasi ideologi ke ranah ekstrem yang menjustifikasi kekerasan (Imaduddin, 2016).

Efek kamar gema bisa terjadi dalam semua bidang, contohnya pada pemilu Indonesia tahun 2019. Pada pemilu tahun 2019 ini, kita menyaksikan bahwa efek kamar gema ini di eksploitasi oleh para buzzer politik. Karena pada pilpres 2019, kedua capres membawa image yang berbeda. Capres no. 01 membawa image sebagai presiden yang merakyat, nasionalis, dan menggandeng ormas/partai yang mengedepankan islam nusantara. Sementara capres no. 02 membawa image seorang mesiah (juru selamat) yang patriotis, ia beranggapan bahwa Indonesia sedang dalam kondisi yang berbahaya.

Pihak 02 juga menggandeng ormas/partai beraliran islam islam konservatif. Para buzzer kemudian membuat berita hoaks dengan berdasarkan perbedaan ini, berita yang dikeluarkan oleh buzzer politik ini telah disusun sedimikian rupa agar dapat masuk kedalam kamar gema yang spesifik -- biasanya ditujukan kepada kamar gema pendukung capres tertentu. Berita yang di desain untuk masuk kedalam kamar bertujuan untuk memelihara loyalitas kepada capres dan memprovokasi agar membenci capres yang lain. Biasanya tema yang dibawa dalam berita karangan buzzer adalah agama, karena tema yang dibawa memiliki nilai primordial, maka polarisasi di masyakat tidak terhindarkan. Karena masyarakat pendukung kedua capres beranggapan capres pilihan mereka adalah pilihan Tuhan dan tugas mereka adalah memenangkan capres yang bersangkutan.

Polarisasi yang terjadi pada tahun 2019 - menurut saya - adalah blunder pemerintah Indonesia dalam menangani kamar-kamar gema yang tersebar di Media Sosial. Seharusnya pemerintah sebagai institusi negara yang berkewajiban untuk menjaga keamanan negara, lebih proaktif untuk mengawasi dan menindak  kamar-kamar gema yang ada. Misalnya dengan membuat narasi tandingan yang berisi konten persatuan nasional, bhinneka tunggal ika, dll. Narasi tandingan ini penting untuk menciptakan keberimbangan informasi di media sosial, atau bahkan mungkin bisa menenggelamkan suara-suara bernada kekerasan di internet. Selain pemerintah, kita sebagai pengguna internet juga harus memiliki kemampuan literasi digital agar bisa mengidentifikasi mana konten yang negatif dan mana yang positif, ini harus dilakukan agar kita tidak menambah gema-gema negatif yang ada di internet dan media sosial.


Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar